Episode terbaru dari serial animasi yang dinanti-nanti telah tiba. Dalam Primal Season 3 Episode 2, yang diberi judul “Kingdom of Sorrow”, penonton kembali disuguhkan dengan petualangan brutal dan mendalam dari karakter Spear. Ulasan ini akan membahas detail penting dan momen menarik dari episode tersebut, yang menampilkan misi tunggal Spear untuk menemukan kembali keluarganya. Seluruh analisis ini bersumber dari IGN, menyajikan review Primal Kingdom of Sorrow secara komprehensif.

Misi Pencarian Spear: Kembali ke Akarnya
Ketenangan alam yang damai secara mendadak terpecah di awal episode ini. Burung-burung berhamburan, diikuti oleh kepanikan tikus yang berlarian, dan kawanan antelop yang bergegas pergi. Semua makhluk ini merasakan bahaya yang tak wajar: mereka merasakan kehadiran Spear. Tentu saja, Spear tidak bermaksud menyakiti mereka. Ia bahkan tidak memiliki niat apa pun, selain menjalankan misi tunggal untuk menemukan keluarganya, terutama Fang.
Melalui kilasan-kilasan masa lalunya, Spear jelas terhubung dengan tujuan ini, mengarahkannya untuk menemukan kembali kehidupannya yang lampau, meskipun ia mungkin belum sepenuhnya menyadarinya. Namun, perjalanannya ini tidak semudah yang dibayangkan. Seperti biasa, kreator Genndy Tartakovsky dan timnya berhasil menceritakan kisah tanpa kata ini dengan cara yang sangat indah. Beberapa menit pertama yang menampilkan hewan-hewan menjalani hidup mereka terasa puitis.
Perpindahan waktu dan ruang yang terlihat saat latar belakang di sekitar Spear menghilang beberapa kali, menyoroti progres lambatnya dalam pencarian. Akhirnya, ia menemukan dirinya berada di gurun. Meskipun demikian, Primal Season 3 Episode 2 tidak menahan diri dalam menyajikan adegan aksi.
Pertarungan Epik: Monster Cacing Pasir Raksasa
Episode ini menyajikan dua adegan aksi besar. Yang pertama adalah pertarungan Spear melawan apa yang hanya bisa disebut sebagai cacing pasir raksasa, mengingatkan pada makhluk di film Dune. Makhluk ini sangat besar dan memicu semangat Spear, membuatnya berlari kencang, bahkan sampai berlari merangkak dengan empat kaki.
Pertarungan ini membuat Spear Primal Review menunjukkan dirinya dalam kondisi yang lebih buruk dari sebelumnya, yang cukup mengejutkan mengingat kondisinya saat memulai. Namun, pertarungan ini juga mungkin memicu daya pikir Spear. Ketika ia bertemu kembali dengan cacing pasir, Spear cukup cerdas untuk mencari perlindungan di atas pohon hingga ancaman itu berlalu.
Kilas Balik dan Kecerdasan Spear yang Kembali
Momen paling menarik di “Kingdom of Sorrow” terjadi ketika Spear, yang pada dasarnya sedang berhalusinasi setelah semua yang ia alami secara fisik, bertemu dengan dirinya sendiri. Bukan secara harfiah, melainkan melalui sebuah penglihatan dari versi Spear yang masih hidup. Kita kembali melihat Spear mencoba menyatukan kembali kepingan-kepingan masa lalunya, sebisa mungkin dalam kondisinya yang melemah.
Ia menyentuh tombak versi dirinya yang masih hidup. Gambar yang mengikutinya, di mana kedua versi Spear dilalap api, adalah caranya mengingat bagaimana ia sebenarnya mati di Musim 2. Ini menunjukkan bahwa zombie ini bisa berpikir! Kemampuan berpikir ini menjadi sangat berguna dalam adegan aksi kedua.

Konfrontasi Berdarah dengan Kawanan Singa
Adegan aksi kedua melibatkan pertarungan dengan kawanan singa, di mana pertumpahan darah terjadi dengan cepat. Awalnya, adegan ini dimulai dengan cara yang menyedihkan, karena Spear jelas mengira mata bercahaya di kegelapan adalah Fang. Namun, mata itu ternyata milik seekor singa, yang segera bergabung dengan teman-temannya untuk dengan cepat menghabisi Spear. Seluruh adegan ini penuh darah dan mendebarkan, dirancang dengan sangat ahli seperti bagian lain dari serial ini.
Pertarungan ini berpuncak pada percikan kecerdasan yang mengingatkan Spear untuk menggunakan nama panggilannya, sebuah bilah tombak yang ia temukan pada kerangka manusia, untuk mengalahkan raja singa. Banyaknya singa yang terbunuh, termasuk kelompok yang tenggelam setelah jatuh ke air, terasa tragis. Meskipun mereka menyerang pahlawan kita, mereka juga hanya menjalani hidup mereka, seperti makhluk lainnya, melindungi rumah mereka. Seperti ketenangan yang membuka episode ini, pembantaian dan pertumpahan darah yang mengakhirinya juga merupakan bagian dari dunia Primal.
Catatan dari Anachronistic History
Ada beberapa poin menarik dan pertanyaan yang muncul sepanjang episode “Kingdom of Sorrow” ini. Salah satunya adalah bagaimana makhluk antelop menjilat lalat yang mendekati matanya, berbeda dengan episode sebelumnya di mana Spear bahkan tidak memiliki insting untuk melakukan hal serupa. Hal ini mengindikasikan bahwa insting Spear mulai kembali, sebuah perkembangan signifikan dalam Review Primal Kingdom of Sorrow.
Adegan Spear berjalan ke dalam air, menyusuri dasar sungai, lalu kembali ke daratan, sangat mengingatkan pada nuansa Land of the Dead. Animasi karakter pada zombie Spear terus menjadi luar biasa, seperti saat ia berkedip, di mana matanya tidak sepenuhnya sinkron. Belum lagi suara-suara guttural yang sesekali ia buat, menambah kesan primitifnya. Spear juga menunjukkan ketahanan luar biasa, mampu memanjat gunung dan terkena batu jatuh di wajahnya seolah tidak ada apa-apa.
Musik karya Tyler Bates dan Joanne Higginbottom juga patut diacungi jempol, memberikan suasana yang kuat pada setiap adegan. Pertanyaan besar yang tersisa tentu saja adalah, berapa lama lagi hingga Fang benar-benar muncul? Dan apakah putri Spear juga akan ada di sana? Pertanyaan-pertanyaan ini semakin membuat penasaran akan kelanjutan cerita Primal Season 3 Episode 2.
