Film horor yang telah lama dinantikan, 28 Years Later The Bone Temple, kini tayang di bioskop, menandai seri keempat dari waralaba yang dimulai pada tahun 2003 dengan 28 Days Later. Sutradara Nia DaCosta dan bintang Jack O’Connell, pemeran Sir Lord Jimmy Crystal, baru-baru ini berbagi wawasan mendalam mengenai evolusi Infected dan bahaya sesungguhnya di balik karakter Jimmys. Wawancara eksklusif ini mengupas banyak aspek penting dari film, termasuk latar belakang Jimmy dan bagaimana karakter Infected dikembangkan.
Latar Belakang dan Karakter Jimmy Crystal
Jack O’Connell, yang memerankan Jimmy Crystal, menjelaskan area abu-abu besar seputar latar belakang karakternya. Didasarkan pada asumsi bahwa kelompok Jimmy, yang dikenal sebagai “Jimmy dan Jari-jarinya”, sangat efisien dalam bertahan hidup. O’Connell menekankan pentingnya menunjukkan kemampuan mereka dalam menghadapi anggota Infected dengan mudah, memberikan gambaran mengenai keahlian mereka.
Nia DaCosta menambahkan bahwa dinamika dalam kelompok Jimmy sangat penting. Insiden pemicu kehidupannya yang jelas berasal dari adegan pertama film Danny Boyle. Dari situ, dapat disimpulkan bahwa Jimmy menjadi sosok seperti sekarang ini. Struktur kekuasaan dalam kelompoknya juga menjadi fokus utama pembahasan mereka.
Mengenai apakah Jimmy adalah seorang penjahat, DaCosta secara tegas menyatakan “Ya”. Meskipun sebagai anak-anak ia polos, tindakan jahat bisa saja dilakukan oleh anak-anak. Namun, O’Connell berpendapat bahwa selama The Bone Temple, jika seseorang memandang Jimmy sebagai anak kecil yang berlari dari “ayahnya, Setan”, ia akan terlihat tidak terlalu mengancam.
Perbandingan dengan karakter Spike, yang lebih tua dari Jimmy saat kejadian awal, menunjukkan harapan. Spike adalah anak yang baik dan melawan apa yang telah menjadi Jimmy. DaCosta mengatakan bahwa ayah Spike, Jamie, telah menanamkan moral dan etika yang lebih baik daripada pendeta, sehingga ada harapan bagi Spike, sementara untuk Jimmy, tidak ada.
Humanisasi Infected dan Pesan Perubahan
Salah satu aspek menarik dari 28 Years Later The Bone Temple adalah upaya humanisasi karakter Infected, khususnya Samson. DaCosta menjelaskan bahwa ini dimulai dari naskah, di mana Alex Garland sebelumnya menciptakan berbagai jenis Infected di film pertama, seperti Slow-Lows, Alphas atau Berserkers, dan tipe yang biasa. Memperkenalkan gagasan bahwa Infected dapat berkembang secara berbeda, juga menyiratkan bahwa mereka dapat memiliki jalur yang berbeda dan berpikir secara berbeda.
Menciptakan perjalanan untuk karakter Samson bersama karakter Kelson yang diperankan Ralph Fiennes, adalah hal yang istimewa. Hal ini sangat relevan dengan tema film tentang pertanyaan apakah orang bisa berubah, dan apakah ada harapan. Orang dengan harapan cenderung melakukan hal yang lebih baik daripada orang tanpa harapan. Perjalanan Samson mengungkapkan bahwa film dan para pembuatnya percaya bahwa perubahan itu mungkin dan harapan itu penting.
Gaya Penyutradaraan dan Homage Visual
Nia DaCosta menyatakan bahwa ia tidak merasa terikat pada aspek gaya film-film sebelumnya. Ia ingin menghindari imitasi gaya Danny Boyle. Namun, ada satu elemen yang ia ambil: shutter angles. DaCosta menjelaskan bahwa saat Danny Boyle merekam Infected, ia mengubah sudut shutter, yang membuat serangan Infected terlihat tersendat-sendat dan mengganggu dalam 28 Days Later.
DaCosta menganggap teknik ini sangat efektif dan menyukainya di film aslinya. Ia juga merasa ini adalah cara yang bagus untuk memberikan penghormatan, sekaligus efektif untuk apa yang ia lakukan. Karena Jimmys juga berada dalam ranah Infected, dalam hal kekerasan dan horor yang mereka bawa, teknik ini juga digunakan untuk mereka. DaCosta dan sinematografernya, Sean Bobbitt, menggunakan tiga pengaturan shutter angles, terutama sekitar 43,8 derajat, untuk menghindari kedipan cahaya.
Realitas Distorted Jimmy dan Dampak Interaksi
Mengenai pemahaman Jimmy terhadap realitas, Jack O’Connell mengungkap kerentanan yang jarang terlihat pada karakter yang biasanya sangat obsesif dalam mengendalikan segalanya. Dalam dunia yang sepenuhnya menyimpang ini, apa itu realitas? Jimmy Crystal benar-benar rusak. O’Connell meyakini bahwa sebagian dari ini disebabkan oleh kegilaannya dan keyakinannya bahwa ia mendengar suara-suara.
Namun, DaCosta mencatat bahwa O’Connell sangat jelas dalam performanya membedakan antara saat Jimmy benar-benar mendengar suara dan saat ia hanya berpura-pura untuk memanipulasi orang lain demi keuntungannya. Salah satu momen favorit DaCosta adalah saat Jimmy berbicara dengan Kelson dan berkata, “Sepanjang waktu,” yang menunjukkan kesedihan mendalam. O’Connell memahami Jimmy sebagai seorang sosiopat, namun ada momen dalam adegan bersama Dr. Kelson, saat Kelson merawatnya, Jimmy merasakan emosi manusia, mungkin satu-satunya saat ia merasakannya.
Geng Jimmy hidup dalam ketakutan terhadapnya. Namun, dinamika dengan Dr. Kelson berbeda; Kelson mendekatinya sebagai orang biasa yang ingin membantu, bahkan seperti sosok ayah. Mengenai kematian Jimmy, O’Connell berpendapat bahwa ia “bisa saja mati lebih banyak” dalam film, sebuah sentimen yang juga dirasakan oleh pewawancara IGN.
Kembalinya Cillian Murphy dan Reaksi Sutradara
Mengenai kembalinya Cillian Murphy ke waralaba, Nia DaCosta mengungkapkan kegembiraannya. 28 Days Later adalah film yang membuatnya menjadi penggemar berat Murphy. Oleh karena itu, bisa menyutradarai adegan kembalinya Murphy dan memutuskan bagaimana adegan itu akan terasa dan terlihat, adalah pengalaman yang luar biasa bagi DaCosta. Baginya, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan bagi “gadis 12 tahun yang menyukai film” dalam dirinya.
Video Terkait
28 Years Later: The Bone Temple Review
